Surah Yaasiin

Surat Yasin 

Referensi: https://litequran.net/yasin
Referensi: https://jasdibahrun.wordpress.com
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
  1. يٰسۤ ۚyā sīn1.Ya Sin
  2. وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙwal-qur`ānil-ḥakīm2.Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah,
  3. اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙinnaka laminal-mursalīn3.sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul,
  4. عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ'alā ṣirāṭim mustaqīm4.(yang berada) di atas jalan yang lurus,
  5. تَنْزِيْلَ الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِۙtanzīlal-'azīzir-raḥīm5.(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang,
  6. لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اُنْذِرَ اٰبَاۤؤُهُمْ فَهُمْ غٰفِلُوْنَlitunżira qaumam mā unżira ābā`uhum fa hum gāfilụn6.agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.


    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    PENJELASAN KATA-KATA 1 s/d 6
    Huruf ya dan sin pada awal surat diatas adalah huruf fawatihus suar [pembuka surat-surat].

    Huruf wa yang bersambung dengan al-Quran, adalah huruf qasam [sumpah] yang diartikan dengan demi. Ia diketahui sebagai sumpah karena kata sesudahnya yaitu al-Quran berbaris katsrah sehingga menjadi wa al-Qurani. Kalau kata al-Qurannya berbaris akhir dhammah dan menjadi wa al-Quraanu, maka artinya dan al-Quran.
    Kata al-Hakim pada ayat kedua diatas terulang sebanyak 81 kali dalam al-Quran. Maknanya berkisah pada yang bijaksana dan penuh hikmah.

    Kata Innaka terdiri dari dua yaitu Inna dan Ka.

    Inna adalah huruf penegas/penguat sehingga ia berarti sesungguhnya.
    Ka adalah kata ganti orang kedua dari Anta [anda/engkau]. Kata lamina juga terdiri dari dua yaitu la dan min. La berarti sungguh dan min berarti dari atau termasuk.
    Al-Mursalin aslinya adalah al-Mursaluun, tapi karena di dahului oleh huruf min [huruf jar] maka ia menjadi al-Mursaliin. Dari segi arti keduanya sama, yaitu orang-orang yang diutus. Kata Mursaliin dalam al-Quran terulang sebanyak 24 kali. ‘Ala berarti atas, ia adalah hufuf jar.

    Shiratin adalah kata benda, dari mana kita tahu yaitu dari baris akhirnya in atau karena didahului oleh huruf jar [‘ala]. Shirath artinya jalan, yaitu jalan yang lebar dan luas. Kata shirath terulang sebanyak 45 kali dalam al-Quran. Kata Mustaqiim berarti lurus. Al-Mustaqiim terulang sebanyak 31 kali sedangkan dalam bentuk lain mustaqiiman ada 6 kali dalam al-Quran. Jadi kalau digabung shirathin Mustaqiim, maka berarti jalan yang lebar dan luas lagi lurus.
    Kata tanziil terulang sebanyak 11 kali, ia berasal dari kata anzala yang berarti menurunkan. Al-Aziiz dan Ar-Rahim keduanya adalah asma al husna. Asma al-‘Aziiz terulang sebanyak 99 kali dalam al-Quran. Allah adalah Al-‘Aziiz yakni Yang Maha Mengalahkan siapapun yang melawan-Nya dan tidak terkalahkan oleh siapapun. Dia juga yang tidak ada yang sama dengan-Nya, serta tidak dapat dibendung kekuatan-Nya. Dia begitu tinggi sehingga tidak dapat disentuh oleh keburukan dan kehinaan. Kata ar-Rahiim terulang sebanyak 114 kali dalam al-Quran yang berarti Maha Pengasih/penyayang.
    Litunzira kata li dalam ayat ini berarti agar. Tunzira asalnya tunziru karena dimasuki li maka ia menjadi tunzira, artinya engkau memberi peringatan/mengingatkan. Sehingga bila digabung maka ia menjadi agar engkau [Muhammad] memberi peringatan. Qouman yang berarti kaum terulang sebanyak 40 kali, sedangkan dalam bentuk lain Qaumin terdapat 47 dan al Qaumu yang paling banyak yaitu 206 kali dalam al-Quran. Adalagi yang disambung dengan kata ganti orang kedua laki-laki yaitu Qaumuka terdapat 11 kali dalam al-Quran. Perubahan kata ini dalam bentuk lain misalnya Qaumuhu [kaumnya] ada 56 kali dan Qaumuna [kaum kami] 4 kali.
    Unzira bentuk telah pasif yang berarti telah diberi peringatan/telah diperingatkan. Ia berasal dari kata anzara [dia telah memperingatkan].
    Kata ghofilun adalah kata benda yang menunjuk kepada pelaku, ia berbentuk jamak, dan terulang 9 kali. Dalam bentuk lain ghofiliin terulang 8 kali, bahkan dalam bentuk tunggal yang disertai huruf jar [bi] terulang 9 kali. Kata bendanya [masdar] menjadi ghaflah terulang 5 kali dalam al-Quran.
    KANDUNGAN MAKNANYA
    Secara keseluruhan kandungan 83 ayat surat yasin meliputi berbagai pokok pembahasan. Diantaranya, penjelasan tentang keberadaan Allah Swt, hari kebangkitan, konsekwensinya berupa keimanan kepada Allah Swt dan para nabi-Nya, tujuan-tujuannya, serta bantahan dan pernyataan perang terhadap orang-orang kafir dan musyrik. Juga diutarakan argument tentang kebenaran ajaran Ilahi dan kesesatan ajaran lainnya, berbagai kejadian di syurga dan keadaan para penghuninya. Ringkasnya, pokok-pokok pembahasan al-Quran yang berhubungan dengan Allah, hari kebangkitan, dan ajakan kepadanya terkandung dalam ayat ini. Oleh karena itu, esensi al-Quran sesungguhnya adalah ayat-ayat tentang keimanan kepada Allah. Dalam hal ini, surat Yasin meliputi seluruh penjelasan tersebut.
    Subhanallah, luar biasa luasnya kandungan surat yasin. Adalah wajar kalau kemudian Rasulullah Saw memberikan penekanan pada surat ini dengan fadhilah-fadhilahnya yang luar biasa pula. Sudahkah kita merasakan keluasan kandungan dan maknanya ketika membaca surat ini. Kalau sudah alhamdulillah, bila belum maka bersyukurlah kepada Allah karena Ia masih memberi kesempatan kepada kita untuk dapat mengarungi keluasan maknanya.
    Untuk mendapatkan itu semua maka yang perlu dipersiapkan adalah kondisi hati. Kesiapan hati sangat menentukan hasil penjelajahan kita dalam mengarungi samudra yasin ini. Al-Quran tidak akan menembus hati orang-orang yang hatinya berpenyakit. Allah Swt berfirman:
    Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Jika mereka melihat setiap ayat-Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka selalu menempuhnya. Yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai darinya. [al-A’raf: 146]
    Dengan mengucapkan basmalah dan mengharap ridha Allah serta menjadikan-Nya sebagai Guru, mari kita telusuri kedalaman ayat-ayat-Nya. Rabbi zidni ‘ilman warzuqni fahman/ ya Rabb tambahkanlah kepadaku ilmu dan anugerahkanlah kepadaku pemahaman [yang benar]
    بسم الله الرحمن الرحيم
    يس
    Hanya Allah yang mengetahui maknanya
    Dalam al-Quran terdapat dua puluh sembilan surat yang di mulai dengan huruf-huruf hijaiyah seperti ini, yang disebut dengan fawatihus suar/pembuka surat-surat al-Quran. Huruf-huruf hijaiyah yang menjadi pembuka surat-surat tersebut berjumlah empat belas, yang sementara ulama merangkainya menjadi kalimat:
    نص كريم قاطع له سر
    Teks mulia yang bersifat pasti dan memiliki rahasia
    Mengenai pengertian ayat pertama surat yasin ini para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Pendapat-pendapat tersebut diantaranya:
    Ada yang memahami bahwa ia sebagai tantangan kepada mereka yang meragukan kebenaran wahyu Ilahi yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw itu. Ada pula yang memahaminya sebagai bagian dari pemeliharaan Allah Swt terhadap al-Quran. Huruf ya dan sin masing-masing di temukan sebanyak 285 kali dalam surat yasin ini. Jumlah tersebut sama dengan 15 x 19. Angka sembilan belas berasal dari jumlah huruf basmalah dan ia diambil dari ayat ke 30 surat al-Mudatsir. Dengan kata lain, bila jumlah huruf ya dan sin dalam surat ini masing-masing jumlahnya tidak habis dibagi dengan angka 19, maka berarti ada huruf-huruf yang ditambah atau di kurangi oleh manusia. Subhanallah, tidakkah bertambah yakin kita akan kebenaran al-Quran.
    Selanjutnya pendapat yang mengatakan bahwa huruf-huruf fawatihus suar tersebut termasuk cara Allah untuk menarik perhatian orang yang mendengarkan al-Quran, kepada apa yang akan disampaikan. Yang akan disampaikan tersebut tentulah sesuatu yang sangat penting, sehingga Allah memilih cara tertentu untuknya. Dan sesuatu yang sangat penting tersebut adalah al-Quran. Hal ini dapat di lihat pada keseluruhan surat yang dimulai dengan fawatihus suar. Ayat selanjutnya sesudah huruf-huruf hijaiyah tersebut selalu menyebutkan al-Quran. Cara seperti ini dalam ilmu pendidikan disebut dengan apersepsi. Tujuan supaya informasi penting yang akan disampaikan tersebut betul-betul masuk kedalam hati dan pikiran orang yang mendengarkannya sehingga berkesan. Adakah kata lain yang pantas diucapkan selain subhanallah. Sudahkah kesan seperti itu kita dapati dalam membaca surat yasin. Alhamdulillah ya Allah Engkau masih beri kami kesempatan untuk memperbaiki kekurangan.
    Ada pula yang memahami huruf ya dan sin tersebut sebagai singkatan dari ya insanu yang berarti wahai manusia sempurna. Manusia sempurna yang dimaksud menurut Ibnu Abbas adalah Nabi Muhammad Saw. Pengertian ini dihubungkan dengan ayat ke 3 dari surat yasin yaitu, innaka laminal mursaliin [sesungguhnya engkau pastilah salah seorang dari rasul-rasul]
    Terlepas dari apapun pendapat mereka, namun yang pasti adalah bahwa mereka telah dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh mengerahkan segenap kemampuan untuk mengungkap makna yang dikandung oleh surat yasin. Bagaimana dengan kita, kontribusi apa yang telah kita lakukan untuk memahami surat yasin.
    والقران الحكيم
    Demi al-Quran yang penuh hikmah
    Huruf wa diawal ayat ini adalah waw qasam [sumpah]. Pada umumnya sumpah di perlukan untuk pembuktian dan menguatkan keyakinan. Pendapat yang berlaku di kalangan ulama terdahulu mengatakan bahwa, sumpah al-Quran ini mengandung makna pengagungan terhadap muqsam bih [objek yang digunakan untuk bersumpah]. Ibnu Qayyim al Jawziah mengatakan bahwa sumpah Allah Swt dengan sesuatu membuktikan bahwa ia termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar.
    Bila sumpah diatas di hubungkan dengan muqsam bih berarti bahwa Allah ingin menekankan keagungan al-Quran. Salah satu bentuk keagungannya adalah al-hakim, sebagaimana penyifatannya seperti ayat diatas. Penyifatan tersebut mengisyaratkan bahwa al-Quran mengandung hikmah yang dapat mengantar manusia kepada kemaslahatan duniawi dan ukhrawi serta menghindarkannya dari segala petaka karena itulah makna hikmah. Di sisi lain, hakim/bijaksana adalah sifat makhluk hidup, berakal, serta memiliki kehendak. Walau penyifatan tersebut bagi al-Quran merupakan metafora, ia mengesankan bahwa kitab suci al-Quran memiliki “ruh”, dan memang Allah juga menyatakan bahwa:
    وكذالك اوحينا اليك روحا من امرنا
    Demikianlah Kami telah menurunkan kepadamu “ruh” dari sisi Kami, yakni al-Quran [QS. Asy- Syura: 52]
    Al-Quran akan dekat kepada kita dan kitapun akan merasakan kedekatan itu jika kita memiliki ruh yang bersih. Ia akan membuka hati dan rahasia-rahasianya jika kita bersedia membuka hati kita kepadanya.
    Bila keyakinan bahwa al-Quran dapat mengantarkan manusia kepada kemaslahatan dunia dan akhirat serta menghindarkan dari segala bentuk bencana. Sekaligus selalu membuka hati dan membeberkan rahasia yang sangat diperlukan oleh manusia, maka alangkah baiknya sekiranya kita mempersiapkan segala cara untuk dapat senantiasa dekat dan akrab dengan al-Quran. Karena hanya dengan kedekatan dan keakraban itulah kita mendapatkan manfaat yang sebanyak-banyak dari al-Quran.
    Bila al-Quran disifati dengan bijaksana, maka orang-orang yang bersahabat dengan al-Quranpun akan bijaksana. Bukankah sifat bijaksana bagi manusia saat ini merupakan sesuatu yang langka dan mahal harganya. Jadilah orang yang istimewa karena kebijaksanaan dan jadilah orang yang bijaksana karena kedekatannya dengan al-Quran. Demikian kurang lebih kandungan ayat ke dua, wallahu A’lam.
    انك لمن المرسلين
    Sesungguhnya engkau pastilah salah seorang dari rasul-rasul
    Ayat kedua diatas menggunakan kata al-Quran sebagai sumpah untuk menekankan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang rasul. Tidak seorangpun secara pribadi yang dikukuhkan pemberitaannya oleh al-Quran dengan sumpah, kecuali Nabi Muhammad Saw.
    Huruf ka dalam ayat diatas, merupakan kata ganti orang kedua yaitu anta, yang berarti engkau. Engkau dalam ayat ini adalah nabi Muhammad Saw. Ketika kita membaca ayat-ayat seperti ini seharusnya hadir dalam pikiran dan hati kita siapa engkau tersebut. Dalam ayat ini berarti katika membacanya maka sosok pribadi nabi hadir dalam pikiran dan hati kita.
    Keberhasilan kita menghadirkan nabi dalam pikiran idealnya adalah sebuah keharusan, ini disebabkan karena nabi adalah orang yang paling memperhatikan nasib kita, yang perhatiannya kepada kita melebihi siapapun. Bahkan ia adalah orang yang sangat mengkhawatirkan akan keimanan dan keselamatan diri kita, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Firman Allah surat at-Taubah ayat 128 menyebutkan hal tersebut:
    لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف الرحيم
    Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan [keimanan dan keselamatan] bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman. [at-Taubah: 128]
    Ketika kita sampai pada kondisi seperti tersebut diatas, berarti kita telah berinteraksi dengan al-Quran. Kenikmatan interaksi tersebut sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, keimanan dan pemahaman terhadap objek interaksi tersebut. Ketika semua hal tersebut menyatu serta hati dan pikiran kita hanya tertuju kepada objek, maka disitulah emosinal akan tumpah dan itulah kenikmatan yang paling indah ketika membaca al-Quran.
    Efek yang lahir dari interaksi tersebut bermacam-macam ada rasa harap, takut, cemas, dan khawatir. Yang jelas bila kita telah berhasil sampai di tingkat ini, berarti kita telah sampai di depan pintu gerbang rahmat dan ampunan Allah. Dari sinilah seharusnya doa terucap. Dan doa ketika itu adalah doa yang sangat indah, karena ia lahir dari lubuk kesadaran yang teramat dalam. Adalah sangat di sayangkan bila kita membaca ayat demi ayat al-Quran tidak mengantarkan kita kepada keadaan seperti itu.
    Innaka lamin al-mursalin, untuk menyampaikan kalimat singkat inilah Allah bersumpah. Dan dengan sumpah tersebut yang merupakan penguat dan penegas diharapkan memperkuat keyakinan Nabi Muhammad akan kerasulan dirinya. Ini akan menjadi bekal yang sangat berarti bagi Nabi dalam menjalankan misi kerasulannya. Selanjutnya bagi setiap mukmin ayat ini akan menjadi pengokoh keyakinannya kepada Rasulullah Saw
    Disamping itu, dari ayat ini juga diharapkan orang-orang yang meyakini kerasulan Muhammad Saw akan melakukan introspeksi diri, berkaitan dengan sikapnya terhadap Rasul dan ajarannya. Karena keyakinan tidak boleh hanya menempati hati dan lisan saja, ia harus diterjemahkan dalam bentuk ketaatan berupa perbuatan nyata. Dengan bahasa sederhana dapat dikatakan: Apa buktinya kalau kita yakin kepada Rasul.
    Kalau kesan seperti ini muncul setiap kali kita membaca surat yasin, maka alangkah dahsyatnya perubahan yang akan kita lakukan ketika puluhan tahun sudah kita membacanya. Demikian kurang lebih mutiara yang dapat diambil dari ayat ketiga. Wallahu a’lam.
    علئ صراط مستقيم
    Pada jalan yang lurus
    Ayat ini merupakan penjelasan Allah kepada Nabi bahwa ia diutus pada jalan yang lurus. 45 kali kata shirat dalam al-Quran dan semuanya dalam bentuk tunggal, berbeda dengan sabil yang juga berarti jalan. Ini berarti bahwa shirat hanya satu dan bersifat benar. Shirat berarti jalan yang luas. Ia tidak hanya luas tapi disifati pula dengan kata mustaqiim/lurus. Jadi shirathal mustaqim berarti jalan yang luas dan lurus.
    Bukankah dalam shalat ketika membaca al-fatihah kita memohon kepada Allah agar di bimbing ke jalan yang lurus. Ini berarti bahwa kita meminta kepada Allah agar dapat mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Karena itulah makna jalan yang lurus.
    تنزيل العزيز الرحيم
    Yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengasih
    Al-Quran yang dijadikan landasan sumpah pada ayat kedua disifati dengan kata hakim/penuh dengan hikmah dan bijaksana. Pada ayat ini Allah menyebutkan siapa yang menurunkan al-Quran tersebut.
    Kata tanziilan, berarti hard al-syai-I min ulwi ila sufli, turunnya sesuatu dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah. Pengertian ini hemat penulis sangat penting untuk digaris bawahi, karena kesadaran akan ketinggian al-Quran tersebut seharusnya mendahului segala sikap kita terhadap al-Quran. Dari kesadaran tersebut niscaya akan lahir sikap ta’zhim [pengagungan] baik ta’zhimul kalam [mengagungkan firman] maupun ta’zhimul mutakallim [mengagungkan yang berfirman]. Dan dari ta’zhim inilah sikap-sikap positif terhadap al-Quran akan muncul. Ayat 77 s/d 80 surat al-Waqi’ah dapat membantu lahirnya sikap ta’zhim. Allah berfirman:
    Sesungguhnya al-Quran itu adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara [lauhul mahfuzh], tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan, diturunkan dari Tuhan semesta alam [al-Waqi’ah: 77-80]
    Rahmat Allahlah yang menurunkan al-Quran dari ketinggian ‘Arasy-Nya kemudian mentranslasinya kedalam bahasa bumi, bahasa manusia. Agar dengan bahasa tersebut manusia bisa memahami. Walaupun sudah ditranslasi kedalam bahasa manusia, namun tidak semua tangan bisa menyentuhnya dan tidak semua lisan mampu melafalkannya.
    Dalam al-Quran penulis temukan kata tanziilan sebanyak 11 kali. Masing-masing dirangkai dengan kata rabbil ‘alamin sebanyak 4 kali, ‘Azizil hakim 3 kali, dan selebihnya dirangkai dengan kata ‘Azizir Rahim, ‘Azizil Alim, rahmanir rahim dan hakimil hamid, keseluruhannya masing-masing 1 kali. Dengan kata lain Asma yang menyertai tanziilan tersebut adalah : rabbil ‘Alamin, al-‘Aziz, al-Hakim, ar-Rahim, al-‘Alim, ar-Rahman dan al-Hamid. Ada 6 Asma selain Rabbul ‘Alamin. Ke enam Asma tersebut menggambarkan sifat Kalam [al-Quran].
    Menurut hemat penulis, al-Quran diturunkan oleh Pemelihara semesta alam untuk jadi pemelihara semesta alam. Semesta alam ini hanya dapat di pelihara dengan al-Quran yang memiliki sifat, perkasa, bijaksana, pengasih, penyayang, mengetahui dan terpuji. Alam terkecil dari semesta alam ini adalah manusia. Dan manusia akan selamat bila memiliki ke enam sifat tersebut. Keseluruhan sifat itu akan di dapat bila kita mampu menyerapnya dari al-Quran.
    لتنذر قوماما انذر ءباؤهم فهم غفلون
    Agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah di beri peringatan, karena itu mereka lalai.
    Bila ayat ke tiga merupakan pengukuhan kerasulan Muhammad Saw, maka ayat ke enam ini menjelaskan tugas seorang rasul, yaitu sebagai nadzir/yang memberi peringatan. Dengan peringatan tersebut niscaya akan mengeluarkan seseorang bahkan kaum dari kelalaian. Begitu pula sebaliknya, seseorang/suatu kaum akan lalai bila tidak di beri peringatan. Itulah tugas dan kewajiban seorang rasul, dan kemudian tugas tersebut juga menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Setiap muslim harus menjadi nadzir minimal untuk diri sendiri dan keluarga.
    INTERNALISASI DAN RENUNGAN
    Jika kata yasin di pahami sebagai tantangan bagi orang-orang yang tidak mengimani al-Quran, maka kita patut bersyukur karena kita mengimaninya. Tantangan tersebut tidak mungkin ada yang bisa menjawabnya, karena Allah Swt telah memberikan jaminan yang bersifat pasti, yaitu walaupun jin dan manusia bersatu untuk membuat satu surat saja yang sama dengan al-Quran niscaya mereka tidak akan mampu membuatnya. Jaminan tersebut tentu akan membuat kita menjadi lebih yakin akan kebenaran al-Quran.
    Kalau ia di pahami sebagai bagian dari pemeliharaan Allah terhadap al-Quran, maka sudahkah kita mengambil bagian dalam pemeliharan kitab suci tersebut. Apa yang sudah dan yang akan kita lakukan untuk memelihara al-Quran.
    Yasin jika di pahami sebagai singkatan dari wahai manusia sempurna[Nabi Muhammad], maka bukankah kesempurnaan itu juga merupakan sesuatu yang sangat kita harapkan. Kalau manusia menginginkan kesempurnaan maka menyerap nilai-nilai kesempurnaan al-Quran dan meneladani rasul adalah dua cara yang tepat untuk merealisasikan kesempurnaan tersebut.
    Bila sebagai apersepsi maksud ayat pertama ini, maka pernahkan kita tertarik untuk memperhatikan kandungan ayat-ayatnya. Kalau belum, maka alihkanlah ketertarikan kita kepada kesempurnaan yang di tawarkan al-Quran.
    Demi al-Quran yang penuh hikmah dan bijaksana. Nabi Muhammad Saw menjadi manusia sempurna dan dipuji kesempurnaannya oleh Allah swt karena menjadikan al-Quran sebagai panduan dalam setiap ucapan, tindakan dan perbuatan. Nilai kita di hadapan Allah sangat tergantung kepada pengetahuan, pemahaman dan pengamalan al-Quran. Carilah jalan yang bisa mengantarkan kita kepada pengetahuan dan pemahaman. Dan mohonlah pertolongan Allah agar bisa mengamalkannya dalam kehidupan.
    Sesungguhnya engkau benar-benar termasuk orang-orang yang di utus. Kuatkanlah keimanan kita kepada rasul dan jadikanlah ia teladan. Karena rasul membawa ajaran yang benar [lurus] yang menjamin orang-orang yang mengikutinya akan selamat dunia dan akhirat serta tidak akan tersesat selama-lamanya. Jaminan tersebut merupakan pembuktian kebenaran ajaran rasul dan al-Quran sekaligus. Disamping itu al-Quran juga menjanjikan aziz [keperkasaan/kekuasaan] dan rahim [pengasih dan penyayang] bagi siapa saja yang menghendaki keduanya. Temukanlah keduanya dalam al-Quran.
    Litunzira. Jadilah pewaris dan penerus ajaran Nabi, dengan cara mengamalkan dan mendakwahkannya. Sampaikanlah kebenaran kepada orang lain sesuai dengan kapasitas dan tingkat kemampuan kita. Islam tidak cukup hanya di imani dan diamalkan melainkan ia juga harus di perjuankan dan didakwahkan.

    .
  7. لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلٰٓى اَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَlaqad ḥaqqal-qaulu 'alā akṡarihim fa hum lā yu`minụn7.Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.
  8. اِنَّا جَعَلْنَا فِيْٓ اَعْنَاقِهِمْ اَغْلٰلًا فَهِيَ اِلَى الْاَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَinnā ja'alnā fī a'nāqihim aglālan fa hiya ilal-ażqāni fa hum muqmaḥụn8.Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah.
  9. وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَwa ja'alnā mim baini aidīhim saddaw wa min khalfihim saddan fa agsyaināhum fa hum lā yubṣirụn9.Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.
  10. وَسَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَwa sawā`un 'alaihim a anżartahum am lam tunżir-hum lā yu`minụn10.Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga.
  11. اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍinnamā tunżiru manittaba'aż-żikra wa khasyiyar-raḥmāna bil-gaīb, fa basysyir-hu bimagfiratiw wa ajring karīm11.Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.
  12. اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍinnā naḥnu nuḥyil-mautā wa naktubu mā qaddamụ wa āṡārahum, wa kulla syai`in aḥṣaināhu fī imāmim mubīn12.Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh)..


    PENJELASAN KATA-KATA 7 s/d 12
    Kata Laqad terdiri dari dua huruf yaitu La dan Qad keduanya sama-sama berarti sungguh.
    Haqqa al-Qaulu bila diartikan satu persatu maka Haq berarti benar dan al-Qaul adalah ucapan/ketetapan.

    Hasanain Muhammad Makhluf dalam “kalimah al-Quran” menjelaskan bahwa ‘ laqad haqqal al-qaul” bermakna “demi Allah yang benar-benar telah menetapkan dan telah mewajibkan hukuman”.

    La yukminun/mereka tidak beriman terulang sebanyak 48 kali dalam al-Quran dari
    78 kali kata Yu’minun.

    A’naqihim berarti leher mereka, dengan berbagai perubahannya terdapat 9 kali dalam Quran. Aghlaalan dapat dijumpai sebanyak 6 kali dan dua kali dengan kata maghluulah yang berarti belenggu.
    Dari 6 kali kata aghlaalan tiga kali diantaranya mengambarkan keadaan orang-orang kafir nanti di akhirat, di leher mereka dipasangkan belenggu sebagai akibat dari perbuatan mereka selama ini di dunia. Sedangkan tiga lagi menggambarkan sikap atau keadaan mereka di dunia. Salah satunya adalah surat al-A’raf ayat 157.
    Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang [nama] mereka tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka, maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya al-Quran yang terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
    Sebagian dari misi para Rasul adalah membebaskan manusia dari berbagai beban kehidupan dan belenggu-belanggu yang membuat mereka terkurung dalam perangkap yang tanpa disadari mereka buat sendiri.
    Kata Muqmahuun berasal dari kata Qamaha yang pada mulanya berarti mengambil sesuatu dengan telapak tangan lalu menelannya. Kata muqmah dapat digunakan untuk melukiskan unta yang haus namun tidak mendapati minuman.
    Kata saddan berarti tembok atau dinding terulang sebanyak 3 kali, dua kali dalam surat yasin ini dan satu kali dalam surat al-Kahfi ayat 94.

    Sedangkan kata khosyiya terulang sebanyak 4 kali. Pada umumnya kata ini digunakan untuk pengertian takut kepada Allah, berbeda dengan khouf yang juga bermakna takut, kata ini lebih banyak digunakan untuk takut kepada selain Allah.

    Kata maghfirah yang berarti ampunan terulang sebanyak 28 kali dan kata ghafur/Maha Pengampun terdapat 91 kali dalam al-Quran. Kata ajrun berarti ganjaran/balasan ada 92 kali dalam Quran dengan berbagai kata ganti yang menyertainya, sementara itu dalam bentuk jama’nya ujuur terulang sebanyak 12 kali.
    لقد حق القول علئ اكثرهم فهم لا يؤ منون
    Sebelum menjelaskan kandungan ayat ke tujuh diatas, penulis ingin terlebih dahulu menggaris bawahi akhir ayat ke enam, yaitu ghaafiluun. Salah satu penyebab kelalaian menurut ayat ke enam diatas adalah karena tidak adanya peringatan. Peringatan dalam ayat tersebut lebih dimaksudkan kepada peringatan berupa ucapan dan tentu pelakunya adalah manusia. Dari keseluruhan ayat yang menggunakan kata ghafilun dan berbagai bentuk perubahannya, penulis mencoba membuat kesimpulan tentang penyebab-penyebab kelalaian, diantara penyebab tersebut adalah:
    1. Tidak mempergunakan hati untuk memahami ayat-ayat Allah.
    2. Tidak mempergunakan mata untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.
    3. Tidak mempergunakan telinga untuk mendengarkan ayat-ayat Allah.
    Ketiga point diatas disebutkan oleh Allah dalam surat al-A’raf ayat 179:
    ولقد ذرء نا لجهنم كثيرا منالجن والانس لهم قلوب لا يفقهون بها ولهم اعين لايبصرون بها ولهم ءاذان لا يسمعون بها اؤلئك كالانعام بل هم اضل اولئك هم الغفلون
    Dan sesungguhnya Kami telah jadikan untuk [isi] neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami [ayat-ayat Allah], mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah], dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar [ayat-ayat Allah] mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Al-A’raf: 179
    4. Tidak percaya kepada pertemuan dengan Allah di akhirat. 10:7.
    5. Merasa puas dan tenang dengan kehidupan dunia, 10:7.
    6. Lalai terhadap ayat-ayat Allah, 10:7
    7. Lebih mencintai dunia daripada akhirat, 16:107.
    8. Hati, pendengaran dan penglihatan mereka di tutup oleh Allah, 16:108.
    9. Hanya mengetahui yang zhahir saja dari kehidupan dunia, dan melalaikan akhirat, 30:7
    10. Lalai terhadap makna dan hakikat doa, 46:5.
    11. Mendustakan ayat-ayat Allah, 7:136 dan 7:146
    Demikian sebagian dari penyebab kelalaian menurut al-Quran. Yang tidak kalah pentingnya untuk di perhatikan adalah akibat dari kelalaian tersebut, baik di dunia maupun di akhirat. Dua contoh besar yang telah Allah perlihatkan kepada manusia sebagai dampak dari kelalaian yaitu ditenggelamkannya bani Israil surat al-A’raf:136, dan dihancurkannya penduduk kota-kota juga disebabkan karena mereka lalai, Al-An’am:131. Yang terakhir ini menggambarkan kenyataan yang telah terjadi sekaligus mengandung makna janji serta ancaman bagi siapa saja yang melalaikan ayat-ayat/peringatan Allah, baik pribadi maupun bangsa.
    Kembali ke ayat ke 7 surat Yasin diatas, kata penegas yang Allah pergunakan dalam ayat diatas merupakan realisasi dari janji-janji-Nya, baik berupa kebaikan maupun sebaliknya. Bukankah Allah tidak akan pernah mengingkari janji-janji-Nya. Ayat 7 diatas mengingatkan saya pada ungkapan:
    Tebarlah gagasan, petiklah perbuatan.
    Tanamlah perbuatan, petiklah kebiasaan.
    Tanamlah kebiasaan, petiklah karakter.
    Tanamlah karakter dan petiklah nasib.
    Hubungan ungkapan tersebut dengan ayat yang dibahas menurut hemat penulis sangatlah relevan. Relevansinya terletak pada keterkaitan antara nasib mereka [tidak beriman ] dengan sikap yang mereka perlihatkan [yaitu lengah dan lalai dari berbagai bentuk peringatan dan ayat-ayat Allah].
    Tidak berimannya mereka adalah suatu kemestian, karena mereka tidak pernah mempergunakan potensi-potensi terbaik yang Tuhan berikan kepada mereka. Iman adalah hasil dari proses perenungan, pemikiran dan pembacaan, dan ini adalah ketetapan yang tidak mungkin Allah mengubahnya sesuai dengan firman-Nya, kecuali mu’jizat. Mu’jizat adalah pengecualian, tetapi harus di ingat ia hanya diperuntukkan bagi Nabi dan Rasul. Dan kita meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah khataman nabiyyin/nabi terakhir dan tidak akan ada lagi Nabi sesudahnya. Ini berarti bahwa mu’jizat tidak mungkin ada lagi.
    Dengan kata lain siapapun yang tidak mempergunakan hati untuk memahami, mata untuk melihat dan telingan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, niscaya ia akan lalai, akibatnya mereka tidak mungkin beriman.
    اناجعلنا فئ اعناقهم اغللا فهي الئ الاذقان فهم مقمحون
    Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu ia kedagu sehingga mereka tertengadah
    Perbuatan yang dilakukan berulang kali akan menjadi kebiasaan. Dan bila kita terus menerus dalam suatu kebiasaan maka akan menyebabkan kesulitan untuk keluar dari kebiasaan tersebut. Dalam hal-hal tertentu ia bisa menimbulkan ketaatan, kecintaan dan kefanatikan. Tidak jarang kita dapati terkadang manusia lebih tunduk kepada kebiasaan daripada agama. Itu sebabnya mengapa Rasulullah di periode Mekkah lebih banyak memfokuskan perhatian kepada bagaimana caranya memotong kebiasaan-kebiasaan salah yang selama ini mereka patuhi. Apa yang diterapkan oleh Rasul tersebut adalah untuk efisiensi dakwah.
    Inilah yang dilukiskan oleh Allah dalam ayat ini. Kebiasaan yang telah mengkristal tersebut digambarkan Allah seperti belenggu yang melilit penuh leher mereka bahkan sampai kedagu, akibatnya mereka tertengadah dan tidak dapat lagi melihat kebawah. Paling tidak ada tiga hal dari ayat diatas yang perlu digaris bawahi:
    1. Kata aghlaalan yang bermakna belenggu tersebut sedikitnya terulang 6 kali dalam al-Quran. Dan dua kali dengan kata maghluulah. Keseluruhan kata tersebut menggambarkan dua hal yang berbeda. Pertama menggambarkan keadaan orang-orang kafir yang telah membelenggu diri mereka dengan kebiasaan yang salah. Dalam konteks ini kata aghlaalan bermakna perumpamaan majaz/metafora. Sebagaimana telah disebutkan diatas. Kedua kata aghlaalan tersebut bukan majaz melainkan hakikat yang akan didapati oleh orang-orang kafir di akhirat. Terdapat dua ayat yang menyebutkan aghlaalan dalam konteks ini, yaitu:
    اذالاغلل فئ اعناقهم والسلسل يسحبون
    Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka seraya mereka diseret. [al-Ghafir: 71]
    انا اعتدنا للكفرين سلسلا واغللا وسعيرا
    Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. [al-Insaan:4]
    Kedua ayat dari dua surat yang berbeda tersebut menggambarkan hakikat yang akan dihadapi oleh orang-orang kafir di akhirat nanti.
    2. Kalimat ilal azqaani, yang berarti sampai kedagu. Ini memperlihatkan betapa kronisnya kelalaian mereka sampai melilit habis leher dan bahkan sampai kedagu. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa kenyataan yang mereka dapati tersebut bukan datang dengan tiba-tiba dan tanpa sebab, melainkan sebuah konsekwensi dari kenyamanan mereka terhadap kebiasaan yang salah.
    3. Kata muqmahuun yang berarti tertengadah. Inilah dampak paling berbahaya dan mengerikan dari sebuah kebiasaan salah. Bukan saja tidak menyadari kesalahan bahkan dalam tingkat tertentu mereka bangga dengan kesalahan tersebut, hal ini terjadi karena mereka tidak menyadari kesalahan dan menganggapnya sebagai kebenaran serta bangga dan menyombongkan diri dengannya. Adalah wajar bila setiap Rasul [utusan] datang memberi peringatan kepada mereka, dijawab dengan penolakan, setiap nasehat direspon dengan ejekan dan cemoohan. Disamping itu tertengadah tersebut juga menggambarkan bahwa mereka tidak mungkin bisa di harapkan mampu melihat diri dan mengambil pelajaran darinya. Padahal Allah Swt menyebutkan bahwa dalam diri kita terdapat ayat-ayat [tanda-tanda] kebesaran-Nya. Wa fii anfusikum afalaa tubshiruun, dan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada pada diri kalian apakah kalian tidak melihat.
    وجعلنا من بين ايديهم سدا ومن خلفهم سدا فاغشينهم فهم لا يبصرون
    Dan Kami telah jadikan dihadapan mereka dinding dan dibelakang mereka dinding dan Kami tutup penglihatan mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.
    Sebuah kesalahan yang dibiarkan berlarut-larut tidak hanya akan membawa pelakunya kepada kebodohan, melainkan akan membawanya lebih jauh lagi ke dasar jurang kehancuran. Dalam ayat ke 8 kita melihat betapa menderitanya orang-orang musyrik tersebut dengan belenggu yang menutupi leher dan tertengadah, namun itu belumlah cukup untuk membayar besarnya kerugian yang yang disebabkan oleh kelalaian mereka. Ayat ke 9 ini semakin memperpanjang deretan penderitaan yang mereka hadapi, sampai mereka tidak memiliki kemampuan untuk melihat kebenaran dan hakikat yang ada di depan dan dibelakang mereka, disebabkan karena tembok tinggi yang tanpa sadar mereka bangun.
    Menurut Fakhruddin ar-Razi ayat diatas memberikan dua ilustrasi tentang sikap kaum musyrikin. Pertama, keengganan mereka memandang ayat-ayat Allah yang terdapat dalam diri mereka sendiri. Inilah yang diibaratkan dengan belenggu-belenggu yang menjadikan seseorang tertengadah tidak dapat melihat dirinya sendiri. Kedua, keengganan mereka memandang ayat-ayat Allah yang terhampar di alam raya ini.
    وسواء عليهم ءانذرتهم ام لم تنذرهم لا يؤمنون
    Dan sama saja bagi mereka apakah enkau memperingatkan mereka atau tidak memperingatkan mereka. Mereka tidak akan beriman.
    Sikap keras kepala yang diperlihatkan oleh orang-orang kafir sebagimana dilukiskan ayat-ayat sebelumnya telah mengantarkan mereka kepada keadaan terburuk sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas, yaitu jangankan peringatan yang tersirat, peringatan secara tegas melalui lisan Rasulpun tidak akan menggeser keadaan mereka kepada kebaikan. Sama saja bagi mereka engkau beri peringatan atau tidak tetap mereka tidak beriman. Ayat ini sama dengan ayat ke 6 surat al-baqarah, yang menjelaskan hal yang sama tentang orang-orang kafir. Mengapa peringatan demi peringatan tidak mempengaruhi mereka, jawabannya selain telah dijelaskan dalam ayat ke 8 dan 9 diatas, dengan redaksi yang sedikit berbeda dapat di temukan dalam al-baqarah ayat ke 7. Yaitu karena Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, serta pada penglihatan mereka ada tabir penutup [ghisyawah] yang dalam ayat ke 9 surat yasin di sebut dengan saddan [tembok/dinding]. Apapun kalimat atau kata yang Allah pergunakan untuk menggambarkan keadaan mereka namun pada hakikatnya adalah sama, yaitu mereka bila tingkat kekufurannya sudah sampai kepada keadaan sebagaimana yang disebutkan dalam ayat ke 8 dan 9 diatas, maka mereka tidak mungkin akan kembali lagi pada kebenaran. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-baqarah ayat ke 18.
    صم بكم عمي فهم لا يرجعون
    Mereka tuli, bisu dan buta sehingga mereka tidak dapat lagi kembali [kepada kebenaran]
    انما تنذر من اتبع الذكر وخشي الرحمن بالغيب فبشره بمغفرة واجر كريم
    Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan bagi siapa yang mengikuti adz-Dzikr [al-Quran] dan yang takut kepada ar-Rahman, meskipun Dia gaib. Maka karena itu gembirakanlah ia dengan maghfirah dan ganjaran yang mulia.
    Peringatan apapun bentuk dan dari manapun datangnya, niscaya akan berguna dan memberikan pengaruh yang positif bagi orang yang mau membuka mata, telinga, pikiran dan hati mereka. Karena dari ke empat kekuatan itulah perubahan berawal.
    ان الله لا يغير ما بقوم حتئ يغيروا ما بانفسهم
    Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Ar-Ra’du: 11
    Menurut hemat penulis ayat ini seakan berkata bahwa, siapa yang menginginkan perubahan [kepada yang lebih baik] maka langkah pertama yang harus dilakukan untuk perubahan tersebut adalah mengubah: sudut pandang, persepsi, cara berfikir dan cara melihat sesuatu. Orang yang memiliki kepribadian tertutup, cara dan wawasan berfikirnya sempit serta melihat sesuatu menurut kaca mata mereka, niscaya tidak akan mudah untuk berubah.
    Dari ayat ke 11 diatas dapat kita fahami bahwa nasehat, pelajaran bahkan peringatan hanya akan berguna bagi orang yang mengikuti al-Quran dengan bersungguh-sungguh dan memiliki rasa takut kepada ar-Rahman.
    Yang harus digaris bawahi dari ayat ini adalah penggunaan kata khasyia ar-Rahman [takut kepada yang maha Pengasih]. Manusia pada umumnya takut kepada yang jahat, buas dan sebagainya. Tapi dalam ayat ini justru sebaliknya. Bukankah kata ar-Rahman membuat kita tenang, sejuk dan damai. Kalau demikian mengapa rasa takut itu muncul.
    Dari empat kali kata khasyia dalam al-quran tiga kali diantaranya menyebutkan takut kepada kepada Allah, satu lagi takut akan kesulitan dalam menjaga diri. Kata lain yang berarti takut yang banyak di dapati dalam al-Quran adalah khauf. Kata ini justru sebaliknya, ia lebih banyak dipergunakan untuk mengungkapkan takut kepada makhluk. Dari sinilah barangkali munculnya ungkapan yang mengatakan bahwa takut kepada makhluk harus menghindar dan menjauh, tetapi takut kepada Allah dengan jalan mendekat dan menghampiri.
    Penghujung ayat 11 ini disebutkan bagi orang yang mengikuti al-Quran dan takut kepada ar-Rahman, gembirakanlah mereka dengan ampunan dan ganjaran yang mulia. Pemahaman terbalik dari ayat ini berarti bahwa yang tidak mau mengikuti ajaran Quran dan tidak takut kepada ar-Rahman maka gembirakanlah mereka dengan azab yang menghinakan.
    Mencari jalan untuk melakukan hal-hal yang dapat mengantarkan kepada rahmat dan kasih sayang Allah adalah realisasi dari takut kepada ar-Rahman. Atau dengan kata lain takut kepada ar-Rahman berarti takut tidak mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya.
    انانحن نحئ الموتئ ونكتب ما قدموا وءاثرهم وكل شيئ احصينه فئ امام مبين
    Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami mencatat apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami pelihara dalam kitab induk yang nyata [Lauh Mahfuzh]
    Ayat-ayat yang mengangkat thema tentang kematian biasanya memulai pembicaraan dengan kehidupan baru kemudian di susul dengan kematian. Hal sebaliknya justru kita dapati dalam ayat diatas, dimana pembicaraan dimulai dengan kalimat Kami akan menghidupkan orang yang mati.
    Penulis memahami ayat ini bukan hanya menjelaskan bahwa setiap manusia akan mati, tetapi lebih kepada mengingatkan bahwa setelah kematian akan dihidupkan kembali. Di dalamnya terkandung makna pemberitahuan tentang perjalanan manusia, yang akan di hidupkan kembali setelah kematian mereka. Di samping itu ia juga bisa difahami sebagai peringatan. Seakan-akan Allah mengatakan wahai kalian yang hidup, semua manusia akan mati. Dan kematian itu bukanlah akhir dari kehidupan, karena manusia akan dihidupkan kembali. Kehidupan kembali tersebut berdampak kepada datangnya masa pertanggung jawaban terhadap apa saja yang telah dan akan dikerjakan. Bila ia difahami sebagai peringatan maka tujuannya adalah untuk menyadarkan manusia agar selalu memperhatikan dan memperhitungkan apapun yang akan dilakukan, karena sekecil apapun perbuatan manusia baik yang baik maupun sebaliknya pasti akan diminta pertanggung jawabannya. Kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggung jawaban akan melahirkan kehati-hatian dalam berbuat dan berprilaku, sekaligus akan melahirkan manusia-manusia yang memiliki visi dan misi yang jelas dalam kehidupan.


    .
  13. وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا اَصْحٰبَ الْقَرْيَةِۘ اِذْ جَاۤءَهَا الْمُرْسَلُوْنَۚwaḍrib lahum maṡalan aṣ-ḥābal-qaryah, iż jā`ahal-mursalụnDan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka;

  14. اِذْ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوْهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوْٓا اِنَّآ اِلَيْكُمْ مُّرْسَلُوْنَiż arsalnā ilaihimuṡnaini fa każżabụhumā fa 'azzaznā biṡāliṡin fa qālū innā ilaikum mursalụn(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, “Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.”
  15. قَالُوْا مَآ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَاۙ وَمَآ اَنْزَلَ الرَّحْمٰنُ مِنْ شَيْءٍۙ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَكْذِبُوْنَqālụ mā antum illā basyarum miṡlunā wa mā anzalar-raḥmānu min syai`in in antum illā takżibụnMereka (penduduk negeri) menjawab, “Kamu ini hanyalah manusia seperti kami, dan (Allah) Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu apa pun; kamu hanyalah pendusta belaka.”
  16. قَالُوْا رَبُّنَا يَعْلَمُ اِنَّآ اِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُوْنَqālụ rabbunā ya'lamu innā ilaikum lamursalụnMereka berkata, “Tuhan kami mengetahui sesungguhnya kami adalah utusan-utusan(-Nya) kepada kamu.
  17. وَمَا عَلَيْنَآ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُwa mā 'alainā illal-balāgul-mubīnDan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.”
  18. قَالُوْٓا اِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهُوْا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌqālū innā taṭayyarnā bikum, la`il lam tantahụ lanarjumannakum wa layamassannakum minnā 'ażābun alīmMereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.”
  19. قَالُوْا طَاۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَqālụ ṭā`irukum ma'akum, a in żukkirtum, bal antum qaumum musrifụnMereka (utusan-utusan) itu berkata, “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”
  20. وَجَاۤءَ مِنْ اَقْصَا الْمَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَّسْعٰى قَالَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِيْنَۙwa jā`a min aqṣal-madīnati rajuluy yas'ā qāla yā qaumittabi'ul-mursalīnDan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu.
  21. اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ۔ittabi'ụ mal lā yas`alukum ajraw wa hum muhtadụnIkutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
  22. وَمَا لِيَ لَآ اَعْبُدُ الَّذِيْ فَطَرَنِيْ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَwa mā liya lā a'budullażī faṭaranī wa ilaihi turja'ụnDan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.
  23. ءَاَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً اِنْ يُّرِدْنِ الرَّحْمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا وَّلَا يُنْقِذُوْنِۚa attakhiżu min dụnihī ālihatan iy yuridnir-raḥmānu biḍurril lā tugni 'annī syafā'atuhum syai`aw wa lā yungqiżụnMengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya? Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku.
  24. اِنِّيْٓ اِذًا لَّفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍinnī iżal lafī ḍalālim mubīnSesungguhnya jika aku (berbuat) begitu, pasti aku berada dalam kesesatan yang nyata.
  25. اِنِّيْٓ اٰمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُوْنِۗinnī āmantu birabbikum fasma'ụnSesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)-ku.”
  26. قِيْلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۗقَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِيْ يَعْلَمُوْنَۙqīladkhulil-jannah, qāla yā laita qaumī ya'lamụnDikatakan (kepadanya), “Masuklah ke surga.” Dia (laki-laki itu) berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,
  27. بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَbimā gafara lī rabbī wa ja'alanī minal-mukramīnapa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakan.”
  28. ۞ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى قَوْمِهٖ مِنْۢ بَعْدِهٖ مِنْ جُنْدٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِيْنَwa mā anzalnā 'alā qaumihī mim ba'dihī min jundim minas-samā`i wa mā kunnā munzilīnDan setelah dia (meninggal), Kami tidak menurunkan suatu pasukan pun dari langit kepada kaumnya, dan Kami tidak perlu menurunkannya.
  29. اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ خَامِدُوْنَing kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa iżā hum khāmidụnTidak ada siksaan terhadap mereka melainkan dengan satu teriakan saja; maka seketika itu mereka mati.
  30. يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَyā ḥasratan 'alal-'ibād, mā ya`tīhim mir rasụlin illā kānụ bihī yastahzi`ụnAlangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu, setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya.
  31. اَلَمْ يَرَوْا كَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنَ الْقُرُوْنِ اَنَّهُمْ اِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُوْنَa lam yarau kam ahlaknā qablahum minal-qurụni annahum ilaihim lā yarji'ụnTidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tidak ada yang kembali kepada mereka.
  32. وَاِنْ كُلٌّ لَّمَّا جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَwa ing kullul lammā jamī'ul ladainā muḥḍarụnDan setiap (umat), semuanya akan dihadapkan kepada Kami.
  33. وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الْاَرْضُ الْمَيْتَةُ ۖاَحْيَيْنٰهَا وَاَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُوْنَwa āyatul lahumul-arḍul-maitatu aḥyaināhā wa akhrajnā min-hā ḥabban fa min-hu ya`kulụnDan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus). Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari (biji-bijian) itu mereka makan.
  34. وَجَعَلْنَا فِيْهَا جَنّٰتٍ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ وَّفَجَّرْنَا فِيْهَا مِنَ الْعُيُوْنِۙwa ja'alnā fīhā jannātim min nakhīliw wa a'nābiw wa fajjarnā fīhā minal-'uyụnDan Kami jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,
  35. لِيَأْكُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖۙ وَمَا عَمِلَتْهُ اَيْدِيْهِمْ ۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَliya`kulụ min ṡamarihī wa mā 'amilat-hu aidīhim, a fa lā yasykurụnagar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?
  36. سُبْحٰنَ الَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَsub-ḥānallażī khalaqal-azwāja kullahā mimmā tumbitul-arḍu wa min anfusihim wa mimmā lā ya'lamụnMahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
  37. وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ ۖنَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَۙwa āyatul lahumul-lailu naslakhu min-hun-nahāra fa iżā hum muẓlimụnDan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari (malam) itu, maka seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan,
  38. وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِۗwasy-syamsu tajrī limustaqarril lahā, żālika taqdīrul-'azīzil-'alīmdan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.
  39. وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِwal-qamara qaddarnāhu manāzila ḥattā 'āda kal-'urjụnil-qadīmDan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.
  40. لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَlasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār, wa kullun fī falakiy yasbaḥụnTidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.
  41. وَاٰيَةٌ لَّهُمْ اَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِۙwa āyatul lahum annā ḥamalnā żurriyyatahum fil-fulkil-masy-ḥụnDan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan,
  42. وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِّنْ مِّثْلِهٖ مَا يَرْكَبُوْنَwa khalaqnā lahum mim miṡlihī mā yarkabụndan Kami ciptakan (juga) untuk mereka (angkutan lain) seperti apa yang mereka kendarai.
  43. وَاِنْ نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيْخَ لَهُمْ وَلَاهُمْ يُنْقَذُوْنَۙwa in nasya` nugriq-hum fa lā ṣarīkha lahum wa lā hum yungqażụnDan jika Kami menghendaki, Kami tenggelamkan mereka. Maka tidak ada penolong bagi mereka dan tidak (pula) mereka diselamatkan,
  44. اِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا اِلٰى حِيْنٍillā raḥmatam minnā wa matā'an ilā ḥīnmelainkan (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai waktu tertentu.
  45. وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّقُوْا مَا بَيْنَ اَيْدِيْكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَwa iżā qīla lahumuttaqụ mā baina aidīkum wa mā khalfakum la'allakum tur-ḥamụnDan apabila dikatakan kepada mereka, “Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu (di dunia) dan azab yang akan datang (akhirat) agar kamu mendapat rahmat.”
  46. وَمَا تَأْتِيْهِمْ مِّنْ اٰيَةٍ مِّنْ اٰيٰتِ رَبِّهِمْ اِلَّا كَانُوْا عَنْهَا مُعْرِضِيْنَwa mā ta`tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānụ 'an-hā mu'riḍīnDan setiap kali suatu tanda dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhan datang kepada mereka, mereka selalu berpaling darinya.
  47. وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ ۙقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنُطْعِمُ مَنْ لَّوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ اَطْعَمَهٗٓ ۖاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍwa iżā qīla lahum anfiqụ mimmā razaqakumullāhu qālallażīna kafarụ lillażīna āmanū a nuṭ'imu mal lau yasyā`ullāhu aṭ'amahū in antum illā fī ḍalālim mubīnDan apabila dikatakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki Dia akan memberinya makan? Kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
  48. وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَwa yaqụlụna matā hāżal-wa'du ing kuntum ṣādiqīnDan mereka (orang-orang kafir) berkata, “Kapan janji (hari berbangkit) itu (terjadi) jika kamu orang yang benar?”
  49. مَا يَنْظُرُوْنَ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُوْنَmā yanẓurụna illā ṣaiḥataw wāḥidatan ta`khużuhum wa hum yakhiṣṣimụnMereka hanya menunggu satu teriakan, yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.
  50. فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ تَوْصِيَةً وَّلَآ اِلٰٓى اَهْلِهِمْ يَرْجِعُوْنَfa lā yastaṭī'ụna tauṣiyataw wa lā ilā ahlihim yarji'ụnSehingga mereka tidak mampu membuat suatu wasiat dan mereka (juga) tidak dapat kembali kepada keluarganya.
  51. وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مِّنَ الْاَجْدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَwa nufikha fiṣ-ṣụri fa iżā hum minal-ajdāṡi ilā rabbihim yansilụnLalu ditiuplah sangkakala, maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya (dalam keadaan hidup), menuju kepada Tuhannya.
  52. قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا ۜهٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَqālụ yā wailanā mam ba'aṡanā mim marqadinā hāżā mā wa'adar-raḥmānu wa ṣadaqal-mursalụnMereka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah rasul-rasul(-Nya).
  53. اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَing kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa iżā hum jamī'ul ladainā muḥḍarụnTeriakan itu hanya sekali saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami (untuk dihisab).
  54. فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا وَّلَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَfal-yauma lā tuẓlamu nafsun syai`aw wa lā tujzauna illā mā kuntum ta'malụnMaka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak akan diberi balasan, kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan.
  55. اِنَّ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِيْ شُغُلٍ فٰكِهُوْنَ ۚinna aṣ-ḥābal-jannatil-yauma fī syugulin fākihụnSesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).
  56. هُمْ وَاَزْوَاجُهُمْ فِيْ ظِلٰلٍ عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ مُتَّكِـُٔوْنَ ۚhum wa azwājuhum fī ẓilālin 'alal-arā`iki muttaki`ụnMereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan.
  57. لَهُمْ فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّلَهُمْ مَّا يَدَّعُوْنَ ۚlahum fīhā fākihatuw wa lahum mā yadda'ụnDi surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan.
  58. سَلٰمٌۗ قَوْلًا مِّنْ رَّبٍّ رَّحِيْمٍsalām, qaulam mir rabbir raḥīm(Kepada mereka dikatakan), “Salam,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
  59. وَامْتَازُوا الْيَوْمَ اَيُّهَا الْمُجْرِمُوْنَwamtāzul-yauma ayyuhal-mujrimụnDan (dikatakan kepada orang-orang kafir), “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai orang-orang yang berdosa!
  60. اَلَمْ اَعْهَدْ اِلَيْكُمْ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ اَنْ لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطٰنَۚ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌa lam a'had ilaikum yā banī ādama al lā ta'budusy-syaiṭān, innahụ lakum 'aduwwum mubīnBukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu,
  61. وَاَنِ اعْبُدُوْنِيْ ۗهٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌwa ani'budụnī, hāżā ṣirāṭum mustaqīmdan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.”
  62. وَلَقَدْ اَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيْرًا ۗاَفَلَمْ تَكُوْنُوْا تَعْقِلُوْنَwa laqad aḍalla mingkum jibillang kaṡīrā, a fa lam takụnụ ta'qilụnDan sungguh, ia (setan itu) telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu. Maka apakah kamu tidak mengerti?
  63. هٰذِهٖ جَهَنَّمُ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَhāżihī jahannamullatī kuntum tụ'adụnInilah (neraka) Jahanam yang dahulu telah diperingatkan kepadamu.
  64. اِصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَiṣlauhal-yauma bimā kuntum takfurụnMasuklah ke dalamnya pada hari ini karena dahulu kamu mengingkarinya.
  65. اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَal-yauma nakhtimu 'alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim wa tasy-hadu arjuluhum bimā kānụ yaksibụnPada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.
  66. وَلَوْ نَشَاۤءُ لَطَمَسْنَا عَلٰٓى اَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَاَنّٰى يُبْصِرُوْنَwalau nasyā`u laṭamasnā 'alā a'yunihim fastabaquṣ-ṣirāṭa fa annā yubṣirụnDan jika Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; sehingga mereka berlomba-lomba (mencari) jalan. Maka bagaimana mungkin mereka dapat melihat?
  67. وَلَوْ نَشَاۤءُ لَمَسَخْنٰهُمْ عَلٰى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوْا مُضِيًّا وَّلَا يَرْجِعُوْنَwalau nasyā`u lamasakhnāhum 'alā makānatihim famastaṭā'ụ muḍiyyaw wa lā yarji'ụnDan jika Kami menghendaki, pastilah Kami ubah bentuk mereka di tempat mereka berada; sehingga mereka tidak sanggup berjalan lagi dan juga tidak sanggup kembali.
  68. وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَwa man nu'ammir-hu nunakkis-hu fil-khalq, a fa lā ya'qilụnDan barangsiapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti?
  69. وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهٗ ۗاِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ ۙwa mā 'allamnāhusy-syi'ra wa mā yambagī lah, in huwa illā żikruw wa qur`ānum mubīnDan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas,
  70. لِّيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكٰفِرِيْنَliyunżira mang kāna ḥayyaw wa yaḥiqqal-qaulu 'alal-kāfirīnagar dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar pasti ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir.
  71. اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِّمَّا عَمِلَتْ اَيْدِيْنَآ اَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُوْنَa wa lam yarau annā khalaqnā lahum mimmā 'amilat aidīnā an'āman fa hum lahā mālikụnDan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami, lalu mereka menguasainya?
  72. وَذَلَّلْنٰهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوْبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُوْنَwa żallalnāhā lahum fa min-hā rakụbuhum wa min-hā ya`kulụnDan Kami menundukkannya (hewan-hewan itu) untuk mereka; lalu sebagiannya untuk menjadi tunggangan mereka dan sebagian untuk mereka makan.
  73. وَلَهُمْ فِيْهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَwa lahum fīhā manāfi'u wa masyārib, a fa lā yasykurụnDan mereka memperoleh berbagai manfaat dan minuman darinya. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?
  74. وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنْصَرُوْنَ ۗwattakhażụ min dụnillāhi ālihatal la'allahum yunṣarụnDan mereka mengambil sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.
  75. لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ نَصْرَهُمْۙ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُّحْضَرُوْنَlā yastaṭī'ụna naṣrahum wa hum lahum jundum muḥḍarụnMereka (sesembahan) itu tidak dapat menolong mereka; padahal mereka itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga (sesembahan) itu.
  76. فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘاِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَfa lā yaḥzungka qauluhum, innā na'lamu mā yusirrụna wa mā yu'linụnMaka jangan sampai ucapan mereka membuat engkau (Muhammad) bersedih hati. Sungguh, Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.
  77. اَوَلَمْ يَرَ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌa wa lam yaral-insānu annā khalaqnāhu min nuṭfatin fa iżā huwa khaṣīmum mubīnDan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi musuh yang nyata!
  78. وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌwa ḍaraba lanā maṡalaw wa nasiya khalqah, qāla may yuḥyil-'iẓāma wa hiya ramīmDan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?”
  79. قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۙqul yuḥyīhallażī ansya`ahā awwala marrah, wa huwa bikulli khalqin 'alīmKatakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk,
  80. ِۨالَّذِيْ جَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الشَّجَرِ الْاَخْضَرِ نَارًاۙ فَاِذَآ اَنْتُمْ مِّنْهُ تُوْقِدُوْنَallażī ja'ala lakum minasy-syajaril-akhḍari nāran fa iżā antum min-hu tụqidụnyaitu (Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”
  81. اَوَلَيْسَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يَّخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۗبَلٰى وَهُوَ الْخَلّٰقُ الْعَلِيْمُa wa laisallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa biqādirin 'alā ay yakhluqa miṡlahum, balā wa huwal-khallāqul-'alīmDan bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi, mampu menciptakan kembali yang serupa itu (jasad mereka yang sudah hancur itu)? Benar, dan Dia Maha Pencipta, Maha Mengetahui.
  82. اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُinnamā amruhū iżā arāda syai`an ay yaqụla lahụ kun fa yakụnSesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.
  83. فَسُبْحٰنَ الَّذِيْ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَfa sub-ḥānallażī biyadihī malakụtu kulli syai`iw wa ilaihi turja'ụnMaka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.

Comments

Post a Comment